Biomimicry: Belajar dari alam

Alam telah lama memberi manusia inspirasi. Pesawat terbang, helikopter, kendaraan amfibi, dan kapal selam adalah beberapa contoh penemuan penting umat manusia yang terinspirasi dari keajaiban alam.

Tergerak oleh keajaiban alam tersebut, pada tahun 1997 Janine Benyus menerbitkan buku dengan judul Biomimicry: Innovation Inspired by Nature. Buku tersebut mengajak kita berpaling pada alam untuk menemukan inspirasi bagi inovasi-inovasi yang mampu berjalan selaras dengan prinsip-prinsip yang telah bekerja dengan baik selama milyaran tahun di alam. Mengapa, Benyus bertanya, kita harus memikirkan ulang bagaimana melakukan sesuatu dari awal, bila jawaban-jawaban tersebut sudah disediakan dan diuji oleh alam selama kurun waktu yang tak terbayangkan lamanya?

Ajakan Benyus tidak bertepuk sebelah tangan. Kata-katanya tidak mendarat di telinga-telinga yang tuli. Segera saja kalangan korporasi, akademis, dan militer mengundang Benyus untuk berceramah dan menjadi konsultan di tempat mereka. Salah satu klien pertama Benyus adalah Interface, sebuah perusahaan karpet di Atlanta, US.

Proses pembuatan karpet umumnya tidak bersahabat dengan lingkungan karena memakai bahan-bahan kimia dan energi yang cukup banyak, dan menghasilkan buangan limbah yang tak kalah banyaknya. Sekitar 12 tahun lalu, ketika gedung-gedung hijau mulai bermunculan di US, CEO Interface, Ray Anderson, berkomitmen untuk menjadikan perusahaannya sebagai contoh perusahaan yang peduli dengan lingkungan. Begitu perancang utama perusahaan tersebut membaca buku Benyus, mereka langsung meminta Benyus datang untuk memberikan pelatihan dan konsultasi.

Benyus kemudian membawa peserta pelatihan ke alam bebas, dan mencari jawaban yang dicari Interface di hutan. Mereka mengamati ketika sebuah daun diambil dari tanah, permukaan tanah tetap kelihatan indah. Sejauh mata memandang, terlihat keindahan yang timbul dari ketidakteraturan. Tidak ada ranting dan daun yang sama, namun setiap kombinasi yang dihasilkan alam tiada lain tiada bukan adalah keindahan dan keserasian.

Lalu apa yang dapat mereka pelajari dari alam dan diterjemahkan ke dunia bisnis, terutama bisnis karpet? Perjalanan tersebut membuat mereka memikirkan ulang bagaimana karpet dipakai. Umumnya karpet diproduksi dalam bentuk potongan besar, misalnya 3×5 meter. Setiap potong karpet memiliki pola tersendiri dan alur dari pola tersebut harus dipertimbangkan sewaktu pemasangan karpet dilakukan. Selain itu, bila ada 1 potong karpet yang harus diganti, pemilik bangunan umumnya terpaksa mengganti semuanya bila ingin menjaga keserasian warna karena warna karpet lama dan baru tidak bisa persis sama.

Dari alam, mereka menemukan inspirasi untuk membuat karpet yang polanya tidak teratur, persis seperti seperti permukaan tanah di hutan. Bahan karpet juga lebih ramah lingkungan. Pemilik bangunan bisa saja mengganti satu potongan karpet yang segera menyatu dengan karpet-karpet sebelumnya tanpa adanya perbedaan yang terlihat. Produk baru tersebut, Entropy, segera menjadi bestseller.

Contoh lainnya adalah sebuah perusahaan perekat. Perusahaan tersebut ingin menghasilkan perekat yang lebih ramah lingkungan, tetapi tetap kuat. Bersama-sama dengan Benyus mereka mencari inspirasi dari alam. Mereka meneliti bagaimana bakteri menempel pada korbannya, bagaimana tanaman tertentu mampu merekat di dinding-dinding bangunan, dan bagaimana lalat bisa berjalan terbalik dengan kaki di atas. Akhirnya, mereka menemukan contoh paling tepat: cecak.

Cecak adalah contoh yang sempurna bagaimana alam bisa menghasilkan perekat yang super kuat. Di permukaan bawah kaki-kaki cecak, terdapat jutaan tonjolan kecil. Setiap tonjolan tersebut mampu menjadi penempel ke permukaan apa pun dengan mengeluarkan muatan molekul positif atau negatif. Kekuatan jutaan tonjolan tersebut membuat cecak yang tergantung di dinding mampu menahan beban sehingga 120 kg! Selain itu, ketika cecak mengangkat kakinya, meski sedang berjalan di atas pasir, kakinya akan tetap bersih. Bayangkan potensi pasar untuk produk perekat semacam itu. Selain perusahaan, dua universitas, University of California at Berkeley dan University of Manchester, sudah memproduksi perekat berdasarkan kaki cecak tersebut.

Tim riset dari University of California at Berkeley tersebut juga sudah mengembangkan mata buatan yang diinspirasi oleh mata capung dan lalat. Mata kedua jenis serangga ini terdiri dari jutaan lensa-lensa kecil yang memampukan mereka memiliki penglihatan 180 derajat. Hasil inovasi tersebut bisa dipakai untuk peralatan mata-mata atau membantu operasi pasien dengan memasukkan lensa kecil ke dalam bagian badan yang bermasalah.

Di kalangan militer di US, biomimicry telah diterima secara luas. Prinsip-prinsip yang mendasari sayap burung dan insang ikan, misalnya, telah dipelajari untuk membangun mesin-mesin perang yang mampu bermanuver dengan lebih baik. Cara bergerak lobster di dasar lautan untuk mencari makanan dipelajari untuk membangun wahana penjinak ranjau. Serbuan gerombolan lebah dan semut menghasilkan inspirasi membuat puluhan ribu tentara robot kecil yang mampu berkoordinasi satu sama lain selama operasi militer atau aktivitas pembangunan skala besar. NASA juga telah mempelajari pergerakan serangga-serangga untuk membangun wahana eksplorasi tanpa awak ke planet Mars.

Walau peniruan dari alam tersebut memang telah meluas, beberapa pakar tetap menentang pemakaian kata ‘mimicry‘ (peniruan). Mereka berpendapat, kita tidak boleh meniru mentah-mentah begitu saja dari alam. Yang diperlukan pertama-tama adalah mengerti prinsip dasar ilmiah, dan setelah itu mencari inspirasi dari alam yang sesuai dengan prinsip-prinsip ilmiah tersebut. Namun, kalau pun istilah biomimicry nantinya diganti, hal itu tetap tidak mengubah kenyataan bahwa kita selalu bisa menarik pelajaran dari hasil riset yang telah dilakukan selama 4 milyar tahun di muka bumi ini.

Kilas Balik Belajar di Alam

Ide pendidikan di alam terbuka dengan metode ”belajar dari pengalaman” (experiental learning) sebenarnya sudah dikenal sejak zaman dulu. Filsuf Yunani, Aristoteles, pernah mengatakan pentingnya belajar dari pengalaman. Ia memberi petuah manjur, ”Apa yang harus kita pelajari, kita pelajari sambil melakukannya. (What we have to learn to do, we learn by doing)”
Wien Soehardjo, salah seorang pehobi petualangan di alam terbuka menjelaskan bahwa ahli psikologi pendidikan Harvard, Howard Gardner telah mengidentifikasi perbedaan antara pendidikan sekolah dan pendidikan di luar ruang (outdoor education). Yang pertama tadi biasanya disebut scholastic knowledge. Pendidikan model ini sudah dibatasi secara ketat oleh ”setting” sekolahan. ”Setting ini cenderung teoretis,” tegas Wien.
Di sisi lain, belajar di luar ruang lebih mengedepankan metode connected knowing (menghubungkan antara pengetahuan dengan dunia nyata). Di sini, pendidikan dianggap sebagai bagian integral dari sebuah kehidupan.
Wien yang juga instruktur belajar dari pengalaman mengatakan bahwa konsep belajar di luar ruang sama sekali berbeda dengan proses belajar-mengajar di dalam kelas. Belajar di alam memakai seluruh lingkungan peserta belajar sebagai sumber pengetahuan, dalam konteks belajar. Artinya, interaksi dalam proses belajar-mengajar pada pendidikan alam terbuka mempertemukan ide-ide atau gagasan dari setiap individu sebagai salah satu sumber belajar.
”Jangan lupa, penekanan outdoor education lebih dari sekadar belajar tentang alam, walaupun belajar tentang alam lingkungan merupakan aspek penting dalam tradisi pendidikan di alam terbuka,” pesan Wien.
Berdasar catatan, salah seorang pioneer dalam pendekatan proses belajar di alam terbuka adalah John Dewey (1938). Ia sudah memprediksikan bahwa di masa depan, sekolah merupakan sebuah miniatur masyarakat demokratis. Belajar dari pengalaman menjadi sebuah komponen penting dalam pendidikan.
Setelah Dewey, ada Kurt Hann (1941). Hann mendapat tawaran kerjaan dari Lawrence Holt –pengusaha kapal dagang. Holt punya masalah: kinerja antar-awak kapalnya rendah sekali, terutama soal kerja sama tim ini sangat kurang. Akhirnya, Kurt Hann menerima tawaran itu. Untuk mengatasi persoalan tadi, ia mengadaptasi konsep, outward bound.
Dalam konsep ini, Hahn mengembangkan sebuah program pelatihan fisik bagi para awak kapal sebagai medium mereka untuk belajar mematangkan diri dan mengenal lebih dalam tentang potensi diri mereka masing-masing. Konsep pelatihan tantangan Hahn pada intinya didasarkan atas perpaduan empat unsur, yakni: tempat, isi program, simulator, dan kegiatan berbasis petualangan.
Metode pelatihan dengan memanfaatkan tantangan di alam terbuka oleh Hahn tersebut kemudian dikenal dengan outward bound dan kemudian menjalar ke berbagai penjuru dunia. Metode pelatihan tantangan di alam terbuka Hahn ditujukan sebagai katalis, sebagai medium perubahan dan membantu setiap peserta untuk lebih dapat menemukan pengenalan diri sendiri dan memahami orang lain. Akhirnya, seperti kita tahu, konsep pendidikan ini kemudian berkembang sejak tahun 1970-an di seluruh dunia, termasuk Indonesia.
Di Indonesia outward bound masuk lewat orang-orang yang punya kecintaan pada petualangan di alam bebas. Alat-alat yang dibutuhkan mengharuskan penyelenggara untuk memiliki latar belakang kemampuan teknis. Paling kentara adalah untuk mengeset alat.
Lagipula kalau kita lihat pada materi salah satu pendekatan belajar di luar ruang, adventure education (pendidikan petualangan), mengharuskan pihak operator mengadakan pembelajaran di alam terbuka. Malahan tak jarang mengambil tempat di daerah yang sulit, misalnya di hutan atau di gunung.
Di dalamnya, ada permainan macam navigasi darat dengan memakai peta-kompas atau rope courses (permaianan dengan memakai tali-tali), yang mana permainan ini sudah menjadi ”makanan” para pehobi petualangan alam bebas di sini. Ternyata, konsep outward bound itu amat disukai di sini. Supaya gampang menyebut orang kita pun latah untuk mengucapkan outbond. (bay)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.